Banyuwangi, 28 Januari 2014 (Menuju Curug Lider)

Rasa lelah masih terasa hari itu setelah perjalanan panjang dari Jogja ke Banyuwangi. Awalnya tidak tahu kami ingin pergi kemana, karena Pulau Bali adalah tujuan utamanya. Sedangkan di Banyuwangi hanya untuk menginap semalam saja.

Pagi itu, aku dan Tony pergi ke rumah saudaranya untuk mengambil motor yang akan kami pakai untuk perjalanan ke Bali. Aku lupa daerah mana rumah saudaranya, yang jelas sekitar 1 jam dari rumah ayah Tony. Sesampainya disana, aku diperkenalkan dengan saudaranya, Kang Tarso panggilannya. Kang Tarso kemudian mengajak kami ke Curug Lider, dia mengatakkan jauh – jauh dari Jogja masak tidak main di Banyuwangi. Akhirnya kami pun setuju untuk ke Curug Lider, kemudian aku dan Tony kembali ke rumah untuk menjemput Norman dan Septian.

Dua jam kemudian, atau sekitar pukul 10.00 WIB kami sudah di rumah Kang Tarso lagi dengan Norman dan Septian. Selesai meminum segelas teh dan makan beberapa gorengan yang diberikan Kang Tarso, kami kemudian langsung berangkat ke Curug Lider. Jarak Curug dari rumah kang Tarso cukup jauh, kami sampai di jalan masuk menuju Curug sekitar 1,5 sampai 2 jam. Jalur yang kami lalui cukup terjal, sampai – sampai motor kami tidak kuat naik tanjakan yang berbatu. Sepanjang perjalanan kami melewati perumahan karyawan perkebunan PTPN dan kebun cengkeh. Berdasar penuturan kang Tarso, Curug Lider memang belum banyak didatangi oleh wisatawan, sehingga masih asri dan “perawan”. Curug Lider merupakan satu dari lima curug yang ada di kaki Gunung Raung.

DSCN2702

Sesampainya di jalan masuk Curug, kami memparkirkan motor di tempat yang cukup aman karena tidak ada orang satu pun di tempat itu. Selanjutnya, perjalanan kami lanjutkan dengan berjalan kaki sekitar 1 sampai 1,5 jam menuju Curug. Sepanjang trekking kami menyusuri sungai yang mengalir di tengah hutan. Menurut penuturan kang Tarso, hutan yang kami lewati merupakan kawasan hutan lindung dan tidak jarang ditemui beberpa binatang liar yang dilindungi seperti monyet. Selain itu, juga banyak lintah sepanjang perjalanan. Buktinya aku sempat terkena gigitan lintah.

DSCN2763

Akhirnya, setelah berjalan cukup lama kami sampai di Curug Lider. Perjalanan cukup jauh kami, terbayarkan dengan apa yang didapat. Air terjun yang besar dan tinggi dengan lingkungan sekitar yang masih sangat bersih dan asri. Aku perkiranakan tingginya lebih dari 70 meter, dengan debit air sangat besar. Sehingga sering muncul pelangi di dasar air terjun. Bahkan air cipratannya pun , sampai jarak sekitar 30 meter lebih. Air terjun yang indah, cukup besar dan tinggi. Setelah puas di Curug lider, kami kembali pulang ke rumah kang Tarso. Sekitar pukul 16.00 WIB kami tiba di rumahnya. Disana sudah ada Mas Heru, adik kang Tarso yang akan menajak kami ke perjalanan selanjutnya di Kawah Ijen.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s