Eksistensi Budaya Jawa di Tengah Arus Globalisasi

Gencarnya Amerika Serikat (AS) dan bangsa – bangsa barat sekutunya menyebarkan ideologi liberal ke seluruh Negara di dunia pada abad ke 20 membawa dampak yang begitu besar bagi kelangsungan seluruh sendi kehidupan. Tersebarnya paham Liberal tersebut dibarengi dengan terbukanya sebuah era yang disebut dengan Globalisasi. Lahirnya era globalisasi ini menandai dimulainya kebebasan seluruh umat manusia untuk mengakses berbagai informasi secara tak terbatas dari berbagai belahan dunia. Negara – Negara dunia ketiga termasuk Indonesia dengan mudahnya terbawa oleh arus globalisasi dalam berbagai sendi kehidpan, mulai politik, ekonomi, social, sampai kebudayaan.
Meskipun sebenarnya sudah sejak 4 abad yang lalu Indonesia telah terinfeksi “virus barat akibat dari penjajahan Belanda selama kurang lebih 3,5 abad. Namun gelombang besar globalisasi mulai kentara ketika memasuki abad 20 saat segala bentuk alat komunikasi tersedia. Indonesia yang notabennya merupakan Negara ketimuran dengan kekayaan budaya realitanya sekarang sedikit demi sedikit mulai tenggelam. Masyarakat justru sekarang menuhankan Barat sebagai peradaban budaya terbaik saat ini. Segala sesuatau mengacu kepada kiblat budaya yakni barat. Padahal jika kita telisik lebih jauh lagi, kebudayaan barat tidak lebih kaya dari kebudayaan Negara kita. Selain itu etika dan estetika dalam kebudayaan barat sering bertolak belakang dengan kebudayaan Timur. Kebudayaan barat yang memberikan kebebasan terlalu bebas kepada individu masing – masing , tentunya berbeda dengan kebudayaan Timur yang memberikan kebebasan kepada individu masing – masing namun harus tetap sesuai dengan aturan tertinggi yakni agama.
Banyak masyarakat Indonesia saat ini mulai menghilangkan nilai budaya mereka. Salah satu budaya yang mulai tenggelam yakni Jawa. Mulai dari bahasanya, keseniannya sampai gaya hidupnya mereka seakan lupa bahwa mereka adalah Jawa dan bukan seorang Londo. Tenggelamnya Jawa di era globalisasi ini sebagai akibat dari anak muda yang dimanjakan dengan berbagai fasilitas komunikasi jejarang social sehingga mereka lebih memilih seharian suntuk dengan gadget nya daripada bersosialisasi dengan orang lain secara langsung, maupun mempelajari kebudayaan mereka. Sikap anti social tersebut sangatlah bertolak belakang dengan nilai Budaya Jawa yang mengedapankan gotong royong lan guyub rukun. Perilaku anak muda Jawa pada saat ini mengalami gejala dekandensi mendekati keadaan yang dapat disebut dengan kritis social kemasyarakatan. Sifat mereka menjadi individualis, meniru apa yang mereka sakiskan secara langsung di Barat.
Bentuk budaya Jawa yang semakin terhapus dari memory anak muda adalah bahasa. Dalam penerapan berkomunikasi (verbal maupun non verbal pada konteks keberagaman kebudayaan) dengan masyarakat beda budaya, memang sudah sepantasnya jika menggunakan bahasa penghubung dalam hal ini bahasa nasional yang disepakati, atau tindak tanduk yang umum. Namun, pada tataran komunikasi interpersonal dengan masyarakat yang berada dalam ranah tradisi kebudayaan yang sama, seyogyanya bahasa yang digunakan maupun tindak tanduk yang diperagakan tetap menggunakan tradisi bahasa ibu dengan segala tata kramanya sesuai dengan etika yang telah dijalankan turun – temurun. Karena jika tidak, hal ini akan berpotensi menghilangnya jati diri pada masyarakat Jawa itu sendiri. Filsafat hidup kebudayaan Jawa juga sering diadopsi menjadi representasi kehidupan berbangsa dan bernegara Indonesia. Pada saat penggunaan bahasa jawa dalam berkomunikasi, seseorang harus memperhatikan dan membeda-bedakan keadaan orang yang diajak berbicara atau yang sedang dibicarakan, berdasarkan usia maupun status sosialnya. Semakin tinggi status seseorang lawan bicaranya maka tingkat bahasa yang digunakan pun lebih tinggi. Dalam Bahasa Jawa terdapat beberapa tingkatan bahasa yakni Ngoko, Noko alus, Kromo, dan yang paling tinggi kromo alus (Rahayu,2011). Hal ini dimaksudkan untuk menjaga rasa hormat kepada orang lain yang lebih dituakan, sehingga secara tidak langsung hal ini membentuk kepribadian masyarakat Jawa yang sopan santun, ramah, dan halus. Kenyataanya saat ini banyak masyarakat Jawa terutama pemuda tidak lagi mengindahkan kaidah aturan penggunaan bahasa, ketika mereka bicara dengan teman sendiri dan berbicara dengan orang tuanya bahasa yang digunakan tidak ada bedanya. Hal ini secara tidak langsung juga bertanggung jawab terhadap karakter masyarakat jawa saat ini yang cenderung kasar, beringas, dan tidak sopan.
Bukan hanya bahasa jawa yang mulai terkikis dalam kehidupan masyarakat Jawa, tingkah laku, dan gaya hidup pun dapat dikatan berubah 180 derajat. Tingkah laku masyarakat Jawa yang terkenal sopan santun, lemah lembut, dan halus kini hal tersebut seperti mulai menguap dan hanya menjadi mitos belaka. Kenyataan tersebut dapat disaksikan dalam kejadian nyata seperti tawuran antar supporter sepak bola yang kerap terjadi. Tak jarang korban meninggal kerap terjadi. Para supporter yang mayoritas anak muda ini seakan lupa bahwa mereka punya aturan agama dan budaya yang mengikat mereka dalam bertingkah laku. Perilaku ini disebabkan idealisme berlebihan mereka terhadap klub sepakbola yang mereka dukung, rasa cinta berlebihan mereka terhadap klub melunturkan aturan budaya bahkan sampai agama.
Gaya hidup masyarakat Jawa tak luput tenggelam sebagai akibat arus globalisasi. Kebiasaan – kebiasaan barat seperti minum minuman beralkohol, menggunakan narkotika, dan cara berpakaian pun banyak diadopsi oleh masyarakt Jawa tanpa ada filter yang mampu menyaring. Saat ini banyak kita lihat berdiri diskotik – diskotik di setiap daerah Indonesia yang tidak lain sebagai tempat mabuk dan tak jarang tempat transaksi narkotika. Kebiasaan tersebut sebenarnya dalam flasfah kehidupan jawa sudah diatur. Kebiasaan – kebiasaan yang dilarang untuk dilakukan. Hal tersebut dikenal dengan istilah Molimo atau M5. Molimo ini dilarang untuk dilakukan oleh masyarakat Jawa, yaitu Maling (mencuri, termasuk juga korupsi), madat (nyabu), main (berjudi), minum (mabuk-mabukan), dan madon (main perempuan) (Swandari, 2013). Aturan jelas dan bernilai moral sangat tinggi yang dimiliki oleh kebudayaan Jawa ini jelas merepresentasikan Jawa sebagai sebuah suku yang menjunjung tinggi etika dan estetika hidup sesuai dengan aturan agama. Namun aturan – aturan kehidupan yang lurus peninggalan dari nenek moyang mereka suku jawa satu per satu dilupakan sebagai akibat dari globalisasi. Apapun yang dialkukan Barat kini menjadi kiblat masyarakat jawa, bukan hanya madat dan minum, 3 M yang lain pun tak lepas mereka lakukan. Maling, dapat disaksikan di berbagai media pejabat – pejabat Negara yang korupsi tiada lain sebagian dari mereka orang jawa. Kemudian Main atau berjudi, di era globalisasi saat ini judi sudah tidak terbatas oleh ruang maupun waktu. Judi secara global lewat Internet saat ini menjadi sebuah jaringan yang legal di beberpa Negara, meskipun di Indonesia tidak melegalkannya namun situs – situs judi dunia dapat dengan mudah diakses oleh masyarakat. Madon atau main perempuan, dalam intrprtasi yang lebih luas dapat diartikan sebagai seks bebas. Budaya seks bebas saat ini tentunya tidak lepas dari pengaruh budaya barat yang mereka lihat. Kebebasan individu ala liberal dari barat yang tidak melarang akan seks bebas seakan oleh masyarakt jawa saat ini dianggap wajar karena saat ini adalag era globalisasi.
Falsafah hidup yang diajarkan oleh kebudayaan Jawa sungguh sekarang hanya seperti mitos, bahkan oleh orang Jawa sendiri. Hal ini dikarenakan banyak yang melupakan dan malas untuk mempelajari budaya Jawa. Minimnya minat mempelajari budaya Jawa seperti kesenian oleh masyarakat Jawa sendiri tentunya akan menyebabkan kepunahan budaya. Banyak masyarakat terutama pemuda umumnya lebih suka untuk mempelajari kesenian dari Barat seperti Rock, Rap, dan lain sebagainya ketimbang mempelajari kesenian Jawa sepert Macapat, gamelan, dan lainnya.
Globalisasi yang terjadi saat ini memberikan dmpak yang signifikan bagi pengembangan budaya jawa kepada generasi penerusnya. Globalisasi yang berkiblat pada kebudayaan Barat menjadikan lunturnya budaya asli Jawa, atau lebih parahnya lagi masyrakat Jawa sendiri menganggap budaya Jawa sebagai budaya yang tidak demokrasi karena kurang memberikan kebebasan dan pengelompokan status social tertentu dalam pergaulan sehari – hari. Padahal filosofi dari tiap aturan yang ada dalam kehidupan budaya Jawa bernilai positif dan secara logika tidak mengekang kebebasan manusia, namun hanya memberikan ketentuan untuk tidak dilanggar sehiingga kebebasn yang diberikan dapat dipertanggung jawabkan. Meskipun demikian ketidakmauan masyarakat jawa sendiri dalam melestarikan dan mempelajari budaya Jawa menjadikan suatu kejadian yang akan disebut Tenggelamnya Jawa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s