SAPTO SURYO : SANG DALANG TERAKHIR SURINAME

Semalam pas nonton TV, kebetulan banget nemu acara Talkshow di ADTV yang narasumbernya sangat luar biasa. Talkshow tersebut menceritakan perjuangan satu – satunya dalang di Negara Suriname.
Talkshow tersebut membahas perjuangan Sapto Suryo yang mengabdikan hidupnya untuk membudayakan budaya Jawa di Suriname. Dengan umurnya yang sudah senja, beliau tetap berjuang dengan sepenuh hati. Sebagai seorang warga Negara Suriname yang merupakan bagian dari suku jawa, beliau dengan gigih melestarikan budaya jawa yang notabennya merupakan budaya nenek moyang Suriname yang merupakan Orang – orang Jawa. Secara historis negara suriname memang meiliki hubungan kekerabatan yang sangat kuat dengan Negara Indonesia terutama dengan suku jawa dikarenakan ketika jaman penjajahan Belanda, oranag – orang Indonesia khususnya saat itu suku jawa diasingkan ke negara Suriname. Akibat hal itulah Budaya jawa di Suriname yang dibawa oleh orang Indonesia berkembang pesat, hal itu juga dikarenakan jumlah penduduk asli suriname saat itu sangat sedikit dan justru menjadi kaum minoritas.
Sebagai seorang keturunan Jawa asli yang lahir dan hidup di Suriname kini Sapto Suryo menjadi satu –satunya dalang yang tersisa disana. Namun saat ini beliau sangat prihatin dengan kondisi anak muda Suriname yang notabennya merupakan keturunan jawa sudah tidak mau lagi mempelajari budaya Jawa sebagai peninggalan nenek moyang mereka. Menurut penuturan Pak Sapto, sebenarnya masih ada dua dalang lagi di Suriname. Namun mereka berdua sudah tidak mendalanag lagi dikarenakan umur yang sudah sangat tua. Alhasil Kini Pak Sapto menjadi satu – satunya dalang di Suriname.
Anak muda Suriname, menurut penuturan dari Pak Sapto saat ini lebih memilih menikmati music Reggae dibanding budaya Jawa. Sebenarnya upaya Pak Sapto untuk mengajarkan budaya Jawa kepada masayrakat Suriname didukung oleh Pemerintah yakni dengan membuat program budaya di TV nasional Suriname STVS. Program yang ditayangkan setiap minggu sekali tersebut menceritakan mengenai pewayangan, segala istilah dalam pewayangan, kemudian pitutur.dan lain sebagainya. Selain lewat udara, Pemerintah Suriname juga memfassiliotaski diadakannya Festival Jaran Kepang, “Wonten festival jaran kepang ing Suriname, festival menika dipunlaksanaken saben wulan September” ungkap Pak Sapto. Festival Jaran Kepang tersebut biasanya diikuti pula oleh Negara – Negara Amerika latin di sekitaran Suriname.
Bukan hanya kesenian Wayang saja yang ada di Suriname, kesenian ketoprak, dan ludruk juga dapat ditemukan di Negara yang juga bekas jajahan Belanda. Namun nasib dari kesenian tersebut juga tidak jauh berbeda dengan nasib kesenian wayang. Sebenarnya untuk menarik minat anak muda, Pak Sapto Suryo sedikit mengkombinasikan pagelaran wayang dengan music reggae, selain itu sinden wayang juga tidak lagi mrnggunakan sanggul seperti di Indonesia lagi. Musik reggae tersebut dimasukkan dalam bagian wayang ketika semar, Bagong, gareng, dan petruk masuk.
“Ngurih kabudayaan nenek moyang ing Suriname, njaga kabudayaan jawa, ngajak anak muda sinau jawa” Ungkap Bapak Sapto Suryo pada akhir acara yang merupakan harapannya untuk melestarikan budaya jawa.
Super sekalii, di Suriname aja ada orang keren kayak Pak Sapto Suryo yang memperjuangkan kebudayaan Jawa. Kita (anak muda) Indonesia khusunya suku Jawa harusnya mau belajar dan melestarikan budaya jawa yang merupakan peninggalan asli nenk moyang kita.
Maaf belum ada foto – fotonya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s